Select Page

MOYUDAN – Pada hari Rabu, 12 Agustus 2026 dalam rangkaian acara peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 Kapanewon Moyudan mengadakan ziarah ke makam para pahlawan yang ada di wilayah Kapanewon Moyudan. Tujuan pertama ke makam Sejati Desa, Sumberarum, kemudian dilanjutkan ke makam Dagen, Sumberrahayu, tujuan berikutnya ke makam Klisat, Sumbersari, dan yang terakhir ke makam Karang, Sumberagung.

Acara ini melibatkan Panewu Moyudan, Panewu Anom, Kepala Jawatan, Kepala Subbagian, Koordinator PLKB Moyudan, Koordinator Ziarah beserta anggota yang di tunjuk, Kapolsek, Danramil, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta perangkat dari masing-masing kalurahan.

Rangkaian acara dimulai dengan upacara penghormatan kepada pahlawan, kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga dan di akhiri dengan acara ramah tamah. Acara berlangsung dengan khidmat, diliputi kesan dan semangat perjuangan dan kekeluargaan.

Berikut biodata pahlawan dan riwayat perjuangan di masing – masing Kalurahan :

Kalurahan Sumberarum :

Nama                           : JEMIRIN

Pangkat                       : Kopral Satu TNI AD

TTL                                 : Sejati Pasar, Sumberarum, Tahun 1920

Agama                         : Islam

Pendidikan                 : V.S. Tahun 1934

Pendidikan Militer   : Tidak diketahui

Orang Tua                   : Pawiro Dikoro (alm), putra ke kedua

Alamat                         : Sejati Pasar, Sumberarum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta

Riwayat Perjuangan :

  1. Tahun 1941 sampai dengan Maret 1942 sebagai Anggota Legium Paku Alam Yogyakarta.
  2. Tahun 1942 selama 2 bulan di interneer / dipenjara oleh tentara Jepang di Yogyakarta.
  3. Juni 1942 sampai dengan 17 Agustus 1945 anggota HEIHO.
  4. Tahun 1945 masuk menjadi anggota BKR yang berganti nama menjadi TKR dan terakhir TNI dalam pangkat Kopral.
  5. Tanggal 25 Februari 1945 gugur dalam menghadapi Agresi 1 Belanda di Salam, Muntilan.
  6. Dalam suasana peperangan jenazah almarhum dimakamkan di Salam, Muntilan, Magelang.

Setelah situasi aman, pada bulan Maret 1950 jenazah akan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, namun atas permintaan keluarga, dipindahkan ke makam Kersak, Sejati Pasar hingga sekarang ini.

Kalurahan Sumberrahayu :

Nama                : RADEN SUTEDJO

Umur                 : 20 Tahun

Pangkat            : Kopral Anumerta

Kedudukan     : Anggota Batalion 1 Bantul

Riwayat Hidup:

  1. Gugur pada tanggal 1 Maret 1949, pada waktu terjadi Serangan Umum di Alun -alun Utara Yogyakarta. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Umum Kauman Yogyakarta, karena keluarganya menghendaki dan tidak memperkenankan untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Pada tahun 1952 jenazah Kopral Anumerta Raden Sutedjo dipindahkan ke Pemakaman Umum Padukuhan Dagen dengan Upacara Militer.

Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Propinsi DIY Nomor : 019/SKEP/DHD-45/8/1997 tanggal 10 Agustus 1997. Memutuskan, menetapkan : Memberi Tanda Penghargaan berupa pemancangan Bambu Runcing Merah Putih pada makam almarhum dan sebagai pejuang 45.

Kalurahan Sumbersari :

Nama Pejuang    : MARGONO

Tempat lahir         : Sleman, 10 Oktober 1948

Alamat                   : Klisat, Sumbersari, Moyudan, Sleman, D.I. Yogyakarta

Riwayat Pendidikan :

  1. Tamat SD Tahun 1960 di SD Muhammadiyah Sangonan
  2. Tamat PGAP Muhammadiyah Godean Tahun 1964
  3. Berijazah SMP Negeri Tahun 1964
  4. Melanjutkan ke SPG Muhammadiyah Yogyakarta

Riwayat Hidup :

Margono dalam kesehariannya termasuk anak yang sopan, ramah, pandai bergaul, suka menolong, sangat menyukai wayang kulit, pandai menyanyikan tembang Jawa, suluk dengan suara yang merdu. Tajam ingatannya, berkemauan keras, bercita-cita ingin menjadi pemimpin demi kemajuan Bangsa dan Negara.

Margono gugur tertembak saat mengikuti demonstrantrasi menuntut dibubarkannya PKI di Jln. Gerjen Yogyakarta pada hari Jum’at tanggal 11 Maret 1966 dan dimakamkan di kampung halamannya di Klisat Sumbersari Moyudan Sleman.

Pada peristiwa 11 Maret 1966 selain Margono, gugur juga pahlawan muda Ampera

Kalurahan Sumberagung :

Sejarah singkat perjuangan pahlawan di Dusun Karang, Sumberagung, Moyudan, Sleman

Lokasi : Pos Penjagaan Dusun Karang, Sumberagung, Moyudan

Waktu : Selasa Kliwon, 12 Desember 1948, sore hari

Narasumber : Bp. Tugiyo / Tomowiyono

Waktu itu terjadi perpindahan Markas Tentara Belanda dari Cebongan ke Markas yang berada di Klangon. Dari Cebongan setelah sampai di pasar Ngijon terbagi menjadi dua, Sebagian kea rah barat Sebagian kea rah Selatan menuju pasar Pendulan Desa Sumberarum.

Bersama dengan itu pula 1 regu tentara Belanda yang bermarkas di klangon berpatroli kea rah utara. Sampai di Dusun Klampis belok kekiri menuju Pasar Pendulan. Dengan taktik Patroli Gunting, menuju kea rah pasar Ngijon melewati dusun Karang.

Baru beberapa Langkah diperbatasan dusun Karang dan Pasar Pendulan tepat di rumah Gino terdapat Pos Penjagaan. Tentara Belanda memekikkan kata “MERDEKA”. Tanpa disadari diantara 6 orang menyambut deangan pekikan “MERDEKA”

Naas-lah yang terjadi, tentara Belanda langsung mengarahkan senapan menembak kea rah Pos Penjagaan, hingga 4 orang jatuh terkapar bermandikan darah termasuk GINO yang turut menjatuhkan diri pura-pura mati, sedangkan 2 orang lainnya lari kea rah timur laut.

Peristiwa ini yang tertembak langsung meninggal dunia antara lain : BUANG dan GIYO dimakamkan di Dusun Karang. Sedangkan TOPAWIRO sempat hidup dan di bawa ke Pos Palang-Merah di Dusun Ngento-ento. Sehari kemudian diperintahkan untuk di bawa Pos Palang Merah di Kebon Agung kecamatan Minggir, akhirnya meninggal diperjalanan dan dimakamkan di dusun Sermo Sumberarum. Diketahui GINO karena masih hidup langsung di tangkap dan diamankan.

Pejuang-pejuang kita yang saat itu bertugas jaga adalah :

  1. Buang
  2. Giyo
  3. Topawiro
  4. Gino
  5. Sarjono
  6. Tugiyo

Pengejaran berikutnya SARJONO tertangkap, sedangkan TUGIYO berhasil lari menyelamatkan diri. Diketahui juga yaitu SYAWAL ditangkap karena rumahnya berseberangan dengan Pos Penjagaan. Seorang lagi di arah timur yaitu MUHDI dikejar dan masuk rumah WIRYOTARUNO, dikarenakan di rumah tersebut ditemukan granat milik GINO maka rumah itu di bakar. Diketahui bahwa MUHDI berhasil menyelamatkan diri lewat pintu belakang.

Adapun tentara Belanda dari pasar Ngijon sampai di perbatasan dusun Karng dan Dusun Mergan mengetahui sekelebat orang Bernama KASUK sempat tertembak kakinya. Perjalanan selanjutnya memporak porandakan rumah KARIYODIKROMO.

Demikianlah uraian singkat catatan Sejarah yang pernah terjadi di dusun Karang tentang Perjuangan Kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia. Semoga jasa-jasa beliau menjadi amal bhakti dan diterima Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga nilai-nilai perjuangan yang diajarkan dan diwariskan pahlawan kita dapat kita tanamkan dalam sanubari yang paling dalam dan diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari baik dalam lingkungan kantor, masyarakat, bangsa dan negara. Semangat merdeka akan tetap langgeng di tanah air Indonesia tercinta ini. Aamiin YRA.